Ketika Aku Memutuskan Menjadi Caleg Perempuan; Refleksi Kepemimpinan Perempuan Akar Rumput

224

Penulis : Ana Yunita Pratiwi

Indah Lestari, biasa disapa Indah. Sosok perempuan akar rumput yang terlahir 43 tahun lalu di Tanjung Karang, 23 Maret 1973. Ia tinggal di Kampung Tegal Ombo Kecamatan Waybungur Kabupaten Lampung Timur. Kampung yang sulit akses transportasi dan dikenal sebagai daerah krimininalitas tinggi. Salah satu kabupaten yang banyak menyumbang Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke luar Negeri.

Perempuan yang menamatkan pendidikan SMA pada tahun 1992 dan akhirnya memutuskan untuk meningkatkan kualitas diri dengan melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Terbuka pada 2008 setelah bergabung di Gerakan Perempuan Lampung. Pendidikan-pendidikan kritis yang diperoleh membuatnya menyadari bahwa pendidikan formal adalah prasayarat perempuan untuk memperoleh akses jaminan posisi strategis, posisi tawar dan menunjang dirinya untuk dapat berkontribusi untuk pembangunan.

Hal tersebut dibuktikan dengan semakin menguatkan perannya dalam kepemimpinan perempuan. Diawali tahun 2012 dengan menjadi kepala sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), lalu tahun 2013 diajukan menjadi tutor Universitas Terbuka di kelompok belajar (pokjar) Waybungur. Dua kali ia memperoleh juara kepala sekolah berprestasi di Kab. Lampung Timur pada tahun 2013 dan 2016. Pada 2016, ia juga dimandatkan oleh Forum Komunitas Perempuan Akar Rumput (FKPAR) Lampung Timur melalui musyawarah wilayah II menjadi ketua serikat Perempuan Lampung Timur.

Selain kemampuan mengorganisir, pendampingan korban, ia juga terlibat dalam proses-proses advokasi bersama Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR. Kegelisahan-kegelisahan semakin menguat ketika dihadapkan pada pengambil kebijakan yang tidak berpihak pada persoalan perempuan.  Hingga pada 2018, ia maju menjadi calon legislatif perempuan dengan dilamar oleh salah satu partai politik dan pada September 2018, ia tercatat dalam daftar calon tetap peserta pemilu 2019.

Keberaniannya terlibat dalam kontestasi politik ini merupakan perubahan terpenting dalam dirinya dalam mengasah kapasitas kepemimpinan dan mewujudkan perubahan. Melalui program PERMAMPU dengan memperkuat kepemimpinan perempuan akar rumput untuk advokasi kesehatan perempuan termasuk gizi, stunting dan HKSR dengan dukungan dari kemitraan Australia-Indonesia untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (MAMPU). Upaya-upaya pemenangan caleg perempuan potensial dilakukan dengan beberapa strategi:

  1. Pendidikan politik bagi perempuan potensial gerakan perempuan Lampung
  2. Pendidikan Strategi serta Taktik Pemenangan Caleg Perempuan dari Forum Komunitas Perempuan Akar Rumput
  3. Pembuatan Alat Kampanye dalam rangka promosi caleg perempuan
  4. Pertemuan-pertemuan pemenangan caleg perempuan dari FKPAR
  5. Survey elektabilitas, alat kampanye, dalam pemenangan caleg perempuan

Ia terlibat dalam kegiatan-kegiatan penguatan kapasitas dan advokasi diantaranya:

  1. Pesta Perayaan Gerakan Akar rumput “Kepemimpinan Perempuan untuk kesehatan keluarga, perempuan Muda dan perempuan desa tingkat Propinsi Lampung
  2. Konsultasi Daerah Multi Pemangku Kepentingan “Mewujudkan SDGs yang Responsif Gender danTransformatif”
  3. Dialog Publik “Mimpi Calon Gubernur untuk Kemajuan Perempuan”
  4. Lokalatih Kesehatan perempuan termasuk HKSR dan review SPM layanan Kesehatan bagi petugas kesehatan di 6 Kab/kota
  5. Pertemuan Lembaga Penyedia Layanan Kesehatan untuk Pembahasan Pengembangan Konsep Penyelenggaraan Pusat Perlindungan HKSR Perempuan –Untuk Pelayanan,Pengaduan dan Pembelajaran 6 Kabupaten/Kota”

Menjadi caleg perempuan adalah kali pertama pengalaman terlibat dalam pemilihan pimpinan publik.

“Saya yang  benar-benar baru, ibaratnya lompatannya kejauhan. Tadinya saya  seorang guru, lalu harus terjun ke dunia politik  sehingga agak kaget.  Di awal, saya kurang tertarik untuk terlibat menjadi peserta di pesta demokrasi ini. Bolak-balik saya yakinkan diri dan minta masukan suami untuk maju.

Banyak tantangan yang saya hadapi. Sebelumnya pasca ditetapkan oleh KPU dalam DCT, saya di laporkan oleh caleg lain ke Panwascam untuk melepaskan jabatan saya dari kepala sekolah (non PNS) dan tidak lagi menerima dana sertifikasi padahal itu lah pendapatan sehari-hari saya. Bahkan saya diminta mundur. Kedua, banyak keluarga memberikan  respon setengah hati karena partai saya adalah PAN. Banyak orang-orang yang sebelumnya selalu meminta bantuan kepada saya, namun tidak memilih saya karena sesuatu yang instan (politik uang)

Saya telah melakukan program dari partai untuk sosialisasi sekaligus canvasing di 50 titik, jika diperkirakan tiap titik 20 orang artinya sekitar 1000 an orang yang ditemui. Namun kenyataannya di hasil akhir tetap saja terkena  dampak pesta demokrasi. Dimana masyarakat benar-benar berpesta, mereka masih menerima serangan fajar/ money politik.

Pembelajar lain, nomor urut saya 5 tetapi saya memperoleh suara urutan 3 (502 suara), padahal tanpa menggunakan atau menyebarkan uang (politik uang).  Saya tahu no 1 dan 2 itu hampir menghabiskan dana 300 jt