From Zero To Be Hero (Dari Ibu Rumah Tangga Jadi Sekertaris Desa)

161

(Penulis-Swita Enjelina Simamora)

Nama saya  Wahyu, Saya seorang perempuan yang lahir pada tanggal 05 April tahun 1980. Saya pertama kali terlibat dalam kegiatan DAMAR  diajak oleh  ibu Sri Suharni yang merupakan ketua Fakta DAMAR Tanggamus pada tahun 2010. Pertama kali terlibat, saya  mengikuti pendidikan tentang Adil Gender di desa Batu Tegi, Kecamatan Air Naningan, Kabupaten Tanggamus.

Dulu, sebelum mengikuti  kegiatan dari Lembaga Advokasi Perempuan Damar, saya merupakan sosok perempuan yang kurang berani dalam mengembangkan potensi diri. Saya hanya sebagai ibu rumah tangga yang kesehariannya bekerja mengurus rumah, anak dan suami. Hidup kurang memiliki warna, karena aktifitas yang saya kerjakan hanya dilingkup rumah, keluarga dan tidak terlibat dalam kemasyarakatan. Namun ketika saya diajak kegiatan Fakta DAMAR, saya mengalami banyak perubahan,  baik itu dalam pribadi, keluarga bahkan sosial.

Jika mengingat ke masa lalu, saya adalah sosok perempuan yang tidak berani dan tidak percaya diri untuk bicara di depan orang banyak.  Pernah sekali waktu, saya  mengikuti kegiatan di DAMAR yaitu pendidikan adil Gender  dan diminta untuk menjadi MC (Master of Ceremonies). Saya sudah dibekali kertas panduan MC serta Mic, namun ketika berada di depan orang banyak saya tidak mampu menahan diri karena gugup melihat khalayak ramai, walaupun audiens yang hadir ialah orang –orang yang sering saya temui. Karena merasa tidak percaya diri, kertas panduan MC terjatuh kemana-mana dan hal itu membuat saya menjadi malu. Namun saya tetap motivasi diri dan menjadikan hal tersebut sebagai suatu pelajaran yang sangat berharga. Sehingga sekarang keterampilan saya telah meningkat untuk berani berbicara didepan orang banyak bahkan tanpa memerlukan banyak waktu untuk mempersiapkan diri dalam mengutarakan pendapat.

2011 saya mendatangi 6 dusun di desa saya dan mengabdikan diri menjadi guru PAUD di  6 Dusun  tanpa di bayar. Dulu pernah menginap  berhari –hari di rumah warga agar dapat mengajar anak-anak PAUD disana apabila daerahnya jauh dari rumah saya.  Di pagi dan siang hari sembari saya berangkat maupun sepulang mengajar, saya berjualan tahu mentah untuk membantu perekonomian saya dan keluarga.  Saya menjalani semuanya dengan penuh semangat dengan visi dan keinginan  yang kuat ingin mencerdaskan anak anak yang ada di desa Batu Tegi. Walaupun pada masa itu saya mengajar tanpa imbalan ataupun upah. 2012 saya diberikan kesempatan menjadi kader program PNPM dan berhasil melakukan advokasi untuk akses pendidikan anak usia dini dengan hibah tanah sekitar setengah hektar untuk pembangunan sekolah PAUD dan sampai sekarang saya masih menjadi pengelola di salah satu PAUD.

Tantangan saya dulu ada di keluarga, tidak di ijinkan oleh suami untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sosial. Ketika suami pulang kerja dan dirumah sebagai istri saya harus ada dirumah dan melayani. Hal itu sempat membatasi ruang saya untuk mengembangkan kemampuan diri dan saya mencuri-curi waktu untuk beraktifitas ketika suami tidak di rumah (bekerja). Saya tak pantang menyerah, saya mencoba mengkomunikasikan secara rutin dan bertahap kepada suami kegiatan-kegiatan yang saya ikuti dan diadakan oleh DAMAR baik terkait Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi dan pemberdayaan perempuan.  Lambat laun, suami mulai terbuka, merestui bahkan mau bekerjasama dalam berbagi tugas apabila saya sedang sibuk bekerja di luar rumah. Suami turut membantu dalam hal seperti mencuci piring, menyapu dan sebagainya.

“tapi Ini prosesnya panjang mbak, dulu rasanya saya ingin mati tapi sekarang saya jadi takut mati”

Pada 2015, ketika ada pergantian kepala pekon/kepala desa, ada beberapa perwakilan masyarakat yang menyampaikan keinginan mereka  kepada kepala pekon  (waktu itu Penanggung Jawab  pekon yang masih menjabat) supaya  saya dijadikan  sekretaris desa Batutegi. Masyarakat mendatangi saya ke rumah agar saya bersedia menjadi sekretaris desa.  Awalnya cukup berat, apakah mampu dan lain sebagainya, oleh karena masyarakat mengharapkan saya sebagai sekretaris dan saya rasa itu adalah tanggung jawab yang besar dan suatu kepercayaan yang harus saya jaga dan hormati, maka saya memutuskan untuk  mengabdikan diri menjadi sekretaris sampai dengan sekarang

Disini lah saya melihat kemiskinan berwajah perempuan dalam lingkup desa, baik itu secara ekonomi dan pengetahuan, dan dibenak saya selalu timbul keinginan untuk mengangkat kehidupan sosial mereka, membuat mereka dapat mengembangkan potensi mereka. Mulanya saya bingung sebagai sekertaris desa, apa yang bisa dan harus saya lakukan dengan mimpi dan harapan, perempuan-perempuan yang ada didesa berdaya secara ekonomi dan berani untuk mengeluarkan apa yang menjadi potensi dirinya.

Melalui program PERMAMPU untuk memperkuat kepemimpinan perempuan akar rumput untuk advokasi kesehatan perempuan termasuk gizi, stunting dan HKSR dengan dukungan dari kemitraan Australia-Indonesia untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (MAMPU). Saya sudah mengikuti beberapa kali pelatihan dari Fakta DAMAR yang difasilitasi Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR terkait dengan pemberdayaan perempuan melalui CU (Credit Union) dan Penguatan pengelolaan dan penggunaan dana desa untuk  kesehatan perempuan

Tahun 2017, saya mulai mendorong perempuan yang ada di desa Batutegi untuk mengembangkan pengelolaan ekonomi produktif melalui CU sebagai kekuatan ekonomi kelompok di 6 dusun. Harapannya dengan berkelompok, perempuan akan belajar bekerjasama untuk saling mendukung perekonomian. Tidak hanya berhenti dalam pengembangan CU, saya juga melakukan pendidikan kritis kepada ibu-ibu pengajian di dusun Talang Wara, saya mendorong ibu-ibu ikut terlibat dalam mengikuti rapat perencanaan desa/musrembang desa.

Hingga akhirnya perempuan pengajian dusun Talang Wara mengusulkan kepada  pemerintah pekon untuk mendekatkan layanan kesehatan dengan mendirikan posyandu sebagai sarana untuk memudahkan akses layanan kesehatan dan tahun 2017, 2018 melalui dana desa terbangun gedung untuk posyandu di dusun Talang Wara.  Semuanya ini adalah ilmu yang saya peroleh dari Fakta Damar yang mengajarkan saya bahwa perempuan juga dapat menjadi pemimpin, perempuan setara dengan laki-laki. Oleh sebab itulah saya terus berjuang untuk mensejahterakan masyarakat khususnya perempuan.