Dulu, Aku Fikir Bermanfaat Tidak Harus Jadi Pejabat; Diposisi itu Agar Bisa Mempengaruhi Kebijakan Yang Lebih Merakyat

110

Penulis : Ana Yunita Pratiwi

Mestifah namaku, 47 tahun sudah berlalu usiaku. Aku terlahir di desa Sadar Sriwijaya Kabupaten Lampung Timur 23 Agustus 1972. Usia 22 tahun aku menikah dan dikaruniai 2 buah hati tercinta. Seorang laki-laki yang telah menyelesaikan pendidikan S1 Hukum di Universitas Islam Indonesia dan seorang puteri sedang menjalankan pendidikan di SMA Taruna Nusantara Magelang. Tak seperti perempuan pada umumnya, aku memperoleh akses, ruang leluasa dari orang tuaku sejak kecil. Mengenyam pendidikan sampai SMA, selain sebagai pelajar juga mencari penghasilan dengan memanjat pohon kelapa yang cukup tinggi untuk dipetik buahnya dan dijual (borongan), tak masalah bagiku semua itu.  Setelah lulus  SMA aku harus ikut kakakku untuk merantau dan bertanggung jawab atas sekolah adik-adikku.

Dua tahun setelah menikah tahun 1996, aku pindah ke desa Sidodadi Kec. Bandar Surabaya Kabupaten Lampung Tengah. Sebuah desa perbatasan antara kabupaten Lampung Tengah dan Tulang Bawang dan aku mulai membaur dengan kehidupan menjadi ibu kantin di sebuah perusahaan udang  di Tulang Bawang. Tahun 2000-an, aku mulai bergabung dengan Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR dan memperoleh pendidikan kritis 4 modul; pertama, Pendidikan Adil Gender dan Anti Kekerasan, kedua Pendidikan Analisa Sosial dan Feminism, ketiga Pendidikan advokasi dan Pengorganisasian dan keempat pendidikan kepemimpinan dan tata kelola organisasi. Ada kata yang sangat melekat dalam ingatanku dari pendidikan itu bahwa perempuan dan laki-laki memiliki kemampuan dan potensi “kita pasti bisa, tidak ada yang tidak bisa, bisa-tidak-bisa-harus-bisa”, kata itu yang terus mamacu kepercayaan diriku. Tahun 2005 dari hasil pendidikan kritis yang dilakukan DAMAR, kami bersepakat untuk membangun kekuatan bersama dengan berserikat yang diberi nama Forum Anti Kekerasan Lampung Tengah dan aku diminta untuk menjadi koordinatornya di kabupaten Lampung Tengah.

Aku selalu bersemangat dalam kerja-kerja sosial, tahun 2007 aku diminta beberapa teman untuk mendirikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dengan pertimbangan hanya ada satu PAUD di desa  dan anak-anak usia dini membutuhkan akses yang mudah dan dekat untuk dijangkau. Aku mendalami selama satu tahun proses menjadi pengelola PAUD dan aku lihat ada penyalahgunaan bantuan PAUD yang tidak adil dan merata. Tahun 2008 berdasarkan usulan teman-teman guru, aku dipilih menjadi ketua IGTK (ikatan guru taman kanak) di Kec. Bandar Surabaya. Mewakili kepentingan mereka hingga aku termotivasi melanjutkan pendidikan sarjana Pendidikan pada tahun 2011 dan lulus tahun 2013 dengan akses beasiswa pun beberapa guru perempuan aku dorong  untuk melanjutkan pendidikan sarjana.

Kapasitasku semakin menguat ketika memperoleh pendidikan-pendidikan kritis yang difasilitasi melalui program PERMAMPU dengan dukungan dari kemitraan Australia-Indonesia untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (MAMPU). Kegiatan-kegiatan yang mendukung dalam rangka penguatan kepemimpinan perempuan akar rumput yang aku peroleh diantaranya:

  1. Penyelenggaraan Musyawarah Wilayah II Forum Advokasi Kemanusiaan Lampung Tengah sebagai ruang konsolidasi perempuan akar rumput di Lampung Tengah
  2. Rencana Strategis Gerakan Perempuan Lampung (FKPAR Propinsi Lampung)
  3. Pesta Perayaan Gerakan Perempuan Akar Lampung “Kepemimpinan Perempuan untuk Kesehatan Keluarga, Perempuan Muda dan Perempuan Des
  4. Pendidikan Kepemimpinan Perempuan dan Politik Perempuan tentang Strategi serta Taktik Pemenangan Pemilihan Kepala Desa dan RT
  5. Perayaan dan konsolidasi FKPAR Dampingan Permampu, “Berakar Kuat, Berjuang Bersama melawan Pemiskinan Perempuan”, Pekan Baru 18-20 Oktober 2016
  6. Diskusi Rutin Bulanan yang didalamnya juga membahas peluang dana desa, dll.

Perubahan penting dalam diriku, aku semakin berani menjadi pejabat publik yang dulunya aku fikir bermanfaat tidak harus menjadi pejabat namun tidak, kita harus ada diposisi itu agar bisa mempengaruhi kebijakan yang lebih merakyat. Pada mulanya menjadi pemimpin di organisasi keagamaan, organisasi sosial itu sudah cukup untuk ku bermanfaat, namun ternyata posisi itu belum bisa membawa banyak perubahan pada masyarakat. Ditambah kegelisahan-kegelisahan hati yang mulai mencuat ketika aku sendiri dengan pengalamanku dan keluhan teman-teman yang merasa keberadaan dana desa kurang tepat sasaran.

Aku sendiri menyadari seperti di bodohi ketika tahun 2016, aku coba untuk masuk dan terlibat dalam musyawarah rembuk kampung dan mengusulkan untuk dialokasikan dana untuk pemberdayaan perempuan, dalam musyawarah usulanku diterima dan di iyakan akan dialokasikan 20 juta untuk pelatihan namun beberapa kali ditanyapun tidak ada hasil. Juga mendapati keluhan dana PKK yang tidak keluar, anggaran kesehatan hanya untuk beli seragam.

Tahun 2019 dengan dukungan dan kepercayaan masyarakat atas pertimbangan pengalaman kepemimpinan di IGTK. Aku memutuskan maju untuk mencalonkan diri menjadi kepala kampung Sidodadi Kec. Bandar Surabaya –Lampung Tengah. Tidak mudah untuk akhirnya memutuskan siap, ada beberapa pertimbangan yang mendasari keputusan ini.

  • Pertimbangan kandidat calon kepala kampung lain yang memiliki latar belakang catatan buruk sehingga ada kehawatiran jika mereka yang memimpin akan menjadi apa desa ini kedepan
  • Situasi penggunaan dana desa yang kurang tepat sasaran
  • Anggapan ketidakmampuan pemimpin perempuan untuk mengatasi persoalan desa seperti pencurian (opo iso lak pemimpin wedok nangkep maling) bahkan ada yang mengharamkan memilih perempuan jadi pemimpin.

Ketidakpercayaan mereka soal pemimpin perempuan justru menjadi motivasi dan menjadikan aku semakin percaya diri untuk menjadi kepala kampung dan membuktikan pada masyarakat tentang kepemimpinan perempuan. Pada bulan September dengan restu kedua anakku, aku mencalonkan diri menjadi kepala Kampung Sidodadi dan mengikuti tahapan pemilihan sesuai prosedur yang ada. Banyak tuduhan yang ditujukan padaku, mulai dari nomor urut ku yang kebetulan no. 1 (satu), penyebab kegagalan 2 bakal calon lain dalam tes tertulis, kampanye hitam yang dilontarkan, namun situasi itu yang membuat aku harus terus berjuang dan membuktikan.

7 November 2019 adalah puncak pemungutan suara setelah masa kampanye dan masa tenang yana aku lewati. Syukur alhamdulillah atas kepercayaan masyarakat, aku memperoleh suara terbanyak yaitu 860 pemilih dibandingkan perolehan suara 4 calon lain yang berjenis kelamin laki-laki. Ini adalah awal untuk membuktikan kemampuan kepemimpinan perempuan.

Satu bulan setalah aku terpilih, pada 7 Desember 2019 kerjasama dengan Puskesmas Gayabaru  V mengadakan pemeriksaan tes IVA gratis dan ada 25 perempuan yang mengakses tes IVA serta melakukan pemeriksaan perawatan gigi untuk anak usia dini. Aku berani, aku perempuan bisa berkarir, mengisi hari-hari bermanfaat, memotivasi anak-anak, dan yang terpenting adalah pembelajaran bagi kepemimpinan perempuan.