Kolaborasi jaringan Forum Aktifis Perempuan Muda Indonesia Bersama Komunitas Nonton di Lampung “Nonton dan Diskusi Bareng” Pada Hari Perempuan Internasional

91

Diskusi dan nonton bareng klub nonton pemutaran film A Lady Caddy Who Never Saw A Hole In One dan Peculiar Vacation and Other Ilnesses, minggu 1 Maret 2020 di Gedung kesenian Lampung, Bandarlampung dengan tema “Fokus on Yosep Anggi Noen X International Womens Day”.

Tujuan penyelenggaraan ini untuk merefleksikan situasi kekerasan terhadap perempuan melalui film karya Yosep Anggi Noen, mendekatkan isu kekerasan terhadap perempuan sebagai masalah yang harus ditanggulangi bersama, membangun opini kepada sineas-sineas Lampung untuk lebih giat dalam memproduksi film-film yang  dapat dielaborasikan dalam upaya kampanye kreatif untuk pemenuhan hak-hak perempuan

Kegiatan ini dihadiri 26 peserta yang terdiri dari 12 perempuan dan 14 laki-laki muda yang terdiri dari klub nonton, Kombi & DDV, Tone color audiovisual, Malam puisi Bandarlampung, Rumah Film KPI (RFK), RFH, Viewrinders Universitas Bandarlampung, Lembaga advokasi perempuan DAMAR, Klub nonton, PARFI Lampung, sineas dari SMK Gading Rejo. Ada 3 anggota forum aktifis perempuan muda Indonesia (FAMM-I) berkolaborasi dalam perayaan ini, memperkuat konten isu yang di angkat melalui film.

Film karya Anggi Noen dibahas bersama Dede Safara dewan kesenian Lampung yang juga praktisi film dan Ana Yunita Pratiwi aktifis perempuan Lembaga Advokasi perempuan DAMAR serta dimoderatori oleh Iin Mutmainah sineas perempuan Lampung.

Analisis Gender dalam film karya Yosep Anggi Noen

Poin pembahasan Ana Yunita Pratiwi

  • Film sangat strategis untuk mengkampanyekan atau berbicara mengenai isu perempuan, ini bisa menjadi metode, strategi, pintu masuk untuk berbicara mengenai isu perempuan
  • Berharap teman-teman yang fokus di isu film, banyak mengangkat mengenai isu perempuan kedepannya dan dianalisa bersama
  • Dalam film A Lady Caddy, dunia melihat sosok perempuan atau mendefinisikan perempuan sebagai objek seksual, mendefinisikan perempuan dalam konteks komersil, perempuan adalah sosok yang memiliki nilai jual bagi kapitalis.
  • Anggi Noen memiliki perspektif sendiri untuk menuangkan atau menyajikannya didalam film mengenai realitas yang ada, bahwa perempuan ini masih dilihat sebagai sosok objek seksualitas, perempuan yang bisa ditawar dan itu menjadi hal yang lumrah.
  • Ketika sutradara perempuan yang membuat filmnya, saya kira itu akan lebih mengena lagi karena hal tersebut yang memang dirasakan oleh perempuan.
  • Kenapa sineas-sineas lebih banyak lelaki ? kita refleksikan lagi, kenapa administrasi, bendahara, guru banyak perempuan. ini adalah label yang dilekatkan kepada lelaki dan perempuan, seolah-olah ketika membuat perfilman itu adalah activity yang umum dilakukan oleh laki-laki
  • Film Vakansi yang janggal memang realitas kehidupan rumah tangga yang ada di Indonesia. Walaupun secara definisi laki-laki adalah kepala rumah tangga, perempuan adalah ibu rumah tangga. Peran-peran perempuan pada umumnya adalah peran-peran domestik. Realitasnya banyak, perempuan yang mencari nafkah untuk keluarga, banyak yang bekerja di Indonesia maupun luar negeri, tetapi tetap secara definisi perempuan membantu penghasilan suami.
  • Lelaki dalam budaya patriarki sebagai super power, ketika dia tidak mampu menafkahi sosial, ekonomi untuk keluarganya, yang terjadi ialah dia menunjukan kelaki-lakiannya dengan eksistensi seksualitas, melakukan hubungan seksual dan kekerasan. Ini juga menjadi refleksi dan analisis DAMAR dalam penanganan kasus incest dari teman-teman Penanganan Kasus.

Poin pembahasan Dede Safara

  • Anggi Noen sangat jeli terhadap tematik, isu, pasti menekankan pada pesan-pesan moral. Isu yang diangkat stylenya feminisme, kaum marginal/kaum terpinggirkan, itu style yang digarap.
  • A Lady Caddy ini adalah realitas, subjek yang dimunculkan sebagai ekplorasi feminisme.
  • Eksploitasi perempuan, perempuan menjadi sosok subjek, dan itu terinformasikan semua
  • Biasanya Kita lihat sutradara-sutradara perempuan seperti Nia Dinata, Nan Achnas, mengekplorasi tentang perempuan, kita melihatnya biasa. Tetapi ketika sutradara laki-laki menggarap isu perempuan, itu menjadi daya tarik sendiri untuk juri-juri di film festival
  • selain kita mendapatkan informasi dari dialog tetapi ada sesuatu simbolis didalam gambar tersebut. Misalnya botol Coca-Cola dituangkan, itu lama sekali adegannya, simbolis itu bahasa universal, di satu sisi, Coca-Cola adalah perusahaan multi national/kapitalis, ingin mendominasi sampai masyarakat kelas bawah, kejeliannya Anggi ialah tetap gambar dituangkan ke dalam bahasa
  • Feminsime adalah isu yang paling keren, seksi, dan kalau dieksplorasi lagi itu akan mengangkat kultur tentang perempuan Indonesia