Prihatin Kasus Ayah Siksa Anak Tiri hingga Kaki Melepuh, Masyarakat Perlu Bentuk Komunitas Pemantau

34
Penulis Kontributor Lampung, Tri Purna Jaya | Editor Aprillia Ika
LAMPUNG, KOMPAS.com – Terungkapnya kasus penyiksaan anak tiri yang dialami IB (6) harus dijadikan momentum kesadaran masyarakat atas kekerasan yang terjadi di lingkup keluarga.
Direktur lembaga advokasi perempuan dan anak Damar Lampung, Sely Fitriyani mengatakan, kasus kekerasan yang menimpa IB adalah sebuah tamparan keras agar masyarakat lebih peduli dan awas.
“Harus ada pusat pencegahan kekerasan berbasis komunitas,” kata Sely, Jumat(7/2/2020).
Komunitas ini, kata Sely, sangat perlu untuk segera diadakan. Mengingat untuk bisa disebut Kota Laik Anak, harus tidak ada sama sekali kekerasan yang terjadi.
Menurut Sely, komunitas ini mampu memberikan mengoptimalkan perlindungan kepada anak dari kekerasan.
“Ruang lingkupnya lebih kecil dan dekat, misalnya di RT atau desa. Jadi bisa lebih cepat,” kata Sely.
Bentuk perlindungan yang bisa dilakukan, diantaranya memberikan pengetahuan dan kesadaran untuk kelompok rentan seperti perempuan, anak dan disabilitas.
“Bisa memantau hingga melaporkan jika terjadi tindak kekerasan di ruang lingkupnya,” kata Sely.
Namun, hal yang paling penting bisa dilakukan oleh komunitas ini, kata Sely, adalah memberikan pengetahuan dalam penguatan kapasitas kelompok rentan itu.
“Apa saja hak-hak anak, bagaimana memosisikan diri di dalam keluarga, bagaimana cara bertindak jika kekerasan,” kata Sely.
Diberitakan sebelumnya, bocah berusia enam tahun di Kelurahan Surabaya, Bandar Lampung mengalami penyiksaan oleh ayah tirinya sendiri.
Penyiksaan itu dilakukan pelaku dengan alasan sepele, IB tidak menurut jika disuruh.
Pelaku Wawan menyiksa IB dengan cara memukul kepala menggunakan palu dan pompa ban.

Kaki IB juga direndam di air panas hingga melepuh. Pelaku juga menyundut atas bibir korban menggunakan rokok.

Sumber :https://regional.kompas.com/read/2020/02/19/18134961/prihatin-kasus-ayah-siksa-anak-tiri-hingga-kaki-melepuh-masyarakat-perlu?page=all