Perempuan Akar Rumput Gerak Cegah Covid 19

84

Penulis : Ana Yunita Pratiwi

Bibit Rahayu, perempuan akar rumput yang lahir dan dibesarkan di desa Mandah 44 tahun silam tepatnya pada  1 Mei 1975. Ibu dengan dua orang anak ini mengenyam pendidikan terakhir pada jenjang sekolah menengah atas. Selain sebagai ibu rumah tangga, ia juga aktif di desa dan menjadi sekertaris PKK desa. Pencaharian utama masyarakat di lingkungannya adalah dengan bertani dan menghabiskan aktifitas  keseharian di sawah.

Bergabung bersama Serikat Perempuan Lampung Selatan sejak 2007 membuat ia memperoleh pendidikan-pendidikan kritis yang difasilitasi Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR. Ia juga banyak mengikuti kegiatan melalui program PERMAMPU dengan dukungan dari kemitraan Australia-Indonesia untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (MAMPU). Kegiatan peningkatan kapasitas yang diikuti diantaranya:

  1. Konsolidasi pembentukan FKPAR Sumatera di Padang Sumatera Barat
  2. Penyelenggaraan Musyawarah Wilayah II Serikat Lampung Selatan tahun 2016
  3. Rencana Strategis Gerakan Perempuan Lampung (FKPAR Propinsi Lampung)
  4. Pesta Perayaan Gerakan Perempuan Akar Lampung “Kepemimpinan Perempuan untuk Kesehatan Keluarga, Perempuan Muda dan Perempuan Desa
  5. Pendidikan Kepemimpinan Perempuan dan Politik Perempuan tentang Strategi serta Taktik Pemenangan Pemilihan Kepala Desa dan RT
  6. Pendidikan tahap 4 gerakan perempuan Lampung “Kepemimpinan dan tata kelola organisasi”
  7. Diskusi Rutin Bulanan yang didalamnya juga membahas peluang dana desa, dll.

Perubahan penting darinya adalah ketika ia mengambil peran di pemerintah desa dan menggerakkan ibu-ibu untuk memanfaatkan potensi dana desa yang ada. Seperti mendorong pengadaan mesin jahit untuk peningkatan ketrampilan perempuan di desa. Meskipun sudah di usulkan sejak lama, akhirnya pada 2020 4 unit mesin jahitpun di realisasikan pemerintah desa.

Pada pertengahan Maret lalu, Indonesia digemparkan dengan informasi penyebaran virus Covid 19, dimana pertama kali ditemukan di Wuhan. Ibu Bibit pun memperoleh informasi itu, “virus berbahaya, Saya nontoh di TV itu orang pingsan dan berjatuhan di jalan, penularannya pun lewat manusia ke manusia” ucapnya.

Meski demikian, ia bersyukur belum ada informasi dan data baik orang dengan pengawasan maupun positif corona di desanya. Upaya-upaya pencegahan terus diupayakan baik oleh pemerintah kabupaten maupun pemerintah desa sendiri. Mulai dari himbauan RT untuk sementara waktu tidak melakukan kegiatan yang melibatkan perkumpulan orang banyak seperti pengajian, yasinan hingga penyemprotan desinfektan oleh petugas dinas kesehatan pada fasilitas umum.

Tidak beraktifitas di luar rumah mustahil bagi mayoritas petani di desanya meski situasi ini cukup mencekam. Apalagi musim panen telah tiba yang menjadi pengharapan semua orang, alhasil mereka tetap harus keluar rumah untuk menjadi buruh panen padi dan kupas jagung. Himbauan menggunakan masker pun tetap digalakkan sekalipun masih ada yang mengabaikan.

Ibu-ibu lain seperti ibu bibit pun tetap harus keluar rumah sekedar membeli sayur dan berbelanja. Perempuan pedagang pun tetap harus menjalankan usaha dagangnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Berbekal kemampuannya menjahit, dan mesin jahit yang dimiliki desa dari alokasi dana desa. Ia bersama teman-temannya tergerak membuat masker dengan modal patungan untuk membeli bahan agar masyarakat mudah mengakses masker dan dapat menggunakannya sebagai upaya pencegahan penyebaran covid 19.

“Dengan selembar masker yang dipasaran sulit di dapat untuk saat ini, semoga bisa membantu masyarakat khususnya perempuan di desa agar terlindung dari virus corona yang berbahaya. Pun tanpa Corona perempuan terlindung dari debu dan terjaga kesehatannya” ucapan penutupnya.