Bu Alfiah; Sosok Kepemimpinan Perempuan Akar Rumput di Perbatasan

86

Penulis : Ana Yunita Pratiwi

Ibu Alfiah, 49 tahun lalu ia terlahir di Tulung Agung 14 Desember 1969. Tinggal di desa gayabaru II, Kecamatan Seputih Surabaya Kabupaten Lampung Tengah. Wilayah perbatasan antara Kabupaten Lampung Tengah dengan Kabupaten Tulang Bawang dengan akses jalan berlubang rusak dan termasuk dalam wilayah lokus stunting.  Ia menikah di usia 18 tahun dan  memiliki 3 orang buah hati dari pernikahannya dengan bapak Sugiartono. Lulusan SLTA dengan aktifitas keseharian sebagai seorang ibu rumah tangga yang pada sore hari mencari “ramban” rumput untuk kambing yang diternaknya di rumah. Selain itu, ia juga aktif dalam pengajian-pengajian di desanya dan juga tercatat menjadi kader posyandu.

Perubahan terpenting dalam dirinya adalah ketika ia menyadari jiwa kepemimpinan perempuan dalam dirinya yang selama ini tidak pernah dipahami dan semakin terasah dengan penguatan kapasitas yang diperolehnya secara terus menerus di Forum Advokasi Kemanusiaan (FAK) Lampung Tengah  dampingan DAMAR melalui program PERMAMPU dengan dukungan dari kemitraan Australia-Indonesia untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (MAMPU). Ia mulai terlibat di 2014 dalam penelitian kehamilan yang tidak diinginkan yang diselenggarakan oleh DAMAR hingga tertarik terlibat secara aktif di kegiatan-kegiatan penguatan kapasitas lain diantaranya :

  1. Disksusi rutin bulanan kelompok perempuan
  2. Musyawarah wilayah Forum Advokasi Kemanusiaan Lampung Tengah
  3. Pendidikan Analisis sosial perspekstif feminisme
  4. Pendidikan advokasi dan pengorganisasian
  5. Pendidikan Kepemimpinan Perempuan dan Tata Kelola Organisasi
  6. Pendidikan pembukuan Credit Unian
  7. Pendidikan Pengelolaan Ekonomi Rumah Tangga (PERT) dsb

“Awalnya suami sempat melarang saya untuk terlalu aktif ikut dalam kegiatan-kegiatan Forum Komunitas Perempuan akar Rumput (FKPAR) Lampung tengah. Pada tahun 2015 ada kegiatan diskusi bersama pemerintahan desa Gayabaru II, saya ajak suami biar tahu kegiatan yang saya ikuti dan akhirnya suami mendukung. Kalau ada kegiatan di Bandarlampung, suami selalu hawatir dan menyampaikan jangan aneh-aneh tapi sekarang sudah sangat percaya bahkan mengingatkan bahwa pengetahuan yang sudah saya dapatkan untuk diimplementasikan”.

Sebelumnya, ia hanya ibu rumah tangga yang aktif pengajian dan posyandu. Jiwa kepemimpinannya mulai ia rasakan seiring dari peningkatan kapasitas yang di dapat. Mulai terbangun kepercayaan dirinya pada tahun 2017 dan 2018 mewakili  kecamatan Seputih Surabaya  untuk Pidato Bina Keluarga Balita dalam Jambore PKK. Sebuah pengalaman yang belum pernah ia dapatkan sebelumnya yang akhirnya menyadarkan untuk mengorganisir perempuan akar rumput di desanya dan membentuk Credit Union (CU) atas bekal yang dimiliki. “banyak yang bilang, kenapa tidak dari dulu dibentuk kayak gini (CU), padahal saya aja gak yakin mereka mau saya ajak” tegasnya.

Pada pilihan Gubernur 2018 lalu, ia memberanikan diri ingin tahu dan mencoba berkiprah di politik dengan menjadi KPPS (kelompok penyelenggara pemungutan suara) dengan segala keterbatasan pengalaman. Di 2019 ini bu Alfiah kembali mendaftarkan diri menjadi KPPS dengan jumlah 7 anggota, 5 laki-laki dan 2 perempuan ia salah satunya. Dari pengalamannya, ia pun memotivasi anggota CU untuk terlibat di KPPS pada pemilu 2019 ini dan ditunjuk sebagai ketua KPPS.