Aku Berani, Aku Tidak Takut Berorganisasi. Aku Perempuan!!

20

Penulis : Anggi Herliani

Selamat pagi, apa kabar?.. Aku senang menggunakan kata sapaan itu, karena membakar semangatku sepanjang hari. Namaku Siska Maylani, perempuan kelahiran Panjang asli 28 tahun silam. Aku termasuk perempuan yang senang bergaul dengan orang lain. Hingga akhirnya pada tahun 2008 aku diperkenalkan dengan sebuah organisasi perempuan yang bernama Serikat Perempuan Bandarlampung (SPBL) oleh seorang teman. Saat itu aku masih seorang gadis belia yang sedang menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Atas. Aku senang berkumpul dengan teman-teman yang lain dan berdiskusi membahas tema-tema perempuan yang sedang tren dikalangan remaja.

Tahun 2014 aku dipertemukan dengan jodohku, aku menikah. Saat ini aku mempunyai seorang putri cantik kecil yang kunamai Miska. Setelah menikah, kegiatan berorganisasiku di Serikat Perempuan Bandarlampung (SPBL) menurun. Hal ini disebabkan karena aku takut akan suamiku yang tidak mengizinkan aku pergi diskusi dan bisa menelantarkan anak. Sama sekali, bahkan tidak akan pernah aku seperti itu.. Tetapi apalah daya, aku takut dan sempat vakum dari organisasi. Ketika anakku sudah agak besar dan bisa diajak pergi, aku memutuskan untuk diam-diam ikut pertemuan rutin seperti sebelumnya.

Di salah satu pertemuan rutin tersebut aku mendapatkan pengetahuan tentang adil gender, dimana ada pembagian peran dalam keluarga. Pengetahuan yang kudapat pelan-pelan aku ceritakan kepada suami, dan siapa sangka suami dan keluargaku bisa mengerti dan bahkan ikut mendukung. Aku semakin bersemangat aktif kembali dalam organisasi.Hingga akhirnya, saat ini aku dipilih untuk menjadi anggota divisi kebijakan dan reformasi Serikat Perempuan Bandarlampung (SPBL).

Semakin lama aku ikut diskusi-diskusi, selain perubahan yang ada pada diri suami dan keluarga, aku sendiri pun ikut merasakan perubahannya. Semakin banyak diskusi tentang hak kesehatan seksual dan reproduksi dengan tenaga kesehatan aku jadi tidak takut lagi untuk melakukan tes IVA. Hal ini aku lakukan semata-mata karena aku sadar akan kesehatan reproduksi.

Karena keaktifanku di diskusi rutin bulanan yang diselenggarakan Serikat Perempuan Bandarlampung (SPBL) bersama DAMAR melalui program PERMAMPU dengan dukungan dari kemitraan Australia-Indonesia untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (MAMPU), aku sering diajak mengikuti pelatihan-pelatihan oleh Serikat Perempuan Bandarlampung (SPBL) dan DAMAR, diantaranya:

  1. Pendidikan Adil Gender dan Anti Kekerasan
  2. Pendidikan Analisa Sosial dan Feminisme
  3. Pendidikan Advokasi dan Pengorganisasian
  4. Pendidikan Kepemimpinan Perempuan dan Tata Kelola Organisasi

Pelatihan yang aku ikuti membuat aku mempunyai pengetahuan terkait kepemimpinan dan hak-hak perempuan. Selain itu, aku juga ikut serta dalam Aksi 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan dan Survey Gizi. Hal ini menjadi factor pendukung adanya perubahan pada diriku dan keluargaku. Banyak perubahan yang  dirasakan baik secara pribadi tentunya dengan peningkatan pengetahuan, kesadaran kritis dalam menganalisis bahwa persoalan perempuan terutama kesehatan seksual dan reproduksi berkaitan dengan situasi ketidakadilan gender, yang selama ini diyakini menjadi kesalahan perempuan yang tidak cepat mengambil keputusan, tidak mau memeriksakan kehamilan dan percaya pada mitos-mitos.

Selain diskusi rutin yang membahas materi tertentu, Serikat Perempuan Bandarlampung (SPBL) juga mempunyai kelompok credit union (CU). Aku tergabung menjadi salah satu anggotanya. Banyak manfaat yang kudapatkan setelah aku mengikuti kelompok CU ini diantaranya pengetahuan tentang ekonomi rumah tangga dan belajar menabung demi kesejahteraan rumah tangga. Saat ini aku mempunyai usaha kecil-kecilan yang menjual cilok, mie ayam, es rasa- rasa, mie jablay, dan bakso ikan. Modal kudapatkan dari hasil meminjam di CU sebesar Rp 500.000,-. Walaupun masih kecil-kecilan aku bersyukur bisa menjadi perempuan yang mandiri dan membantu perekonomian keluarga.

Banyak manfaat yang aku dapatkan dari berorganisasi, terima kasih semuanya. Aku berani, aku tidak takut berorganisasi. Aku perempuan!