Tantangan Menjaga Kesehatan Tubuh dan Reproduksi Selama Covid 19

19

Penulis : Ana Yunita Pratiwi

Sari Andi Yati, lahir di Panjang 4 April 1989, ia menyelesaikan pendidikan formal di tingkat SMA. Menikah di usia 20 tahun dan saat ini memiliki 3 orang anak. Ia pengurus Forum perempuan akar rumput Bandarlampung, tinggal di Kelurahan Panjang selatan, Kec. Panjang Bandarlampung. Aktitifitas kesehariannya adalah berdagang yang juga menjadi penghasilan utamanya.

Sejak 2015, ia terlibat aktif dalam penguatan program PERMAMPU yang fokus mempekuat kepemimpinan perempuan untuk advokasi pemenuhan kesehatan perempuan, gizi stunting dan HKSR dengan dukungan dari kemitraan Australia-Indonesia untuk kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan (MAMPU). Perubahan penting dalam dirinya adalah pengetahuan tentang hak kesehatan seksual reproduksi yang diperoleh melalui diskusi-diskusi kritis yang akhirnya membuat ia semakin memberikan proteksi terhadap dirinya.

Dimasa covid 19, Bandarlampung merupakan wilayah zona merah di propinsi Lampung dengan jumlah pasien dengan pengawasan dan meninggal tertinggi. Sejak diberitakan adanya wabah pandemi covid 19 dan himbauan pemerintah untuk sosial/physical distancing. Ia mengikuti anjuran pemerintah dengan tidak keluar rumah selama 16 hari meskipun tetangga dan masyarakat lainnya masih tetap beraktifitas di luar. Ia sempat di bully dengan teman-temannya ketika memilih di rumah saja. “kamu di rumah aja bukannya kena Covid malah meninggal karena kelaperan” tambahnya.

Selama di rumah 16 hari pun ia dan keluarganya makan dengan stok seadanya, hampir setiap hari menu makannya telur dan mie instan. Ia sempat bingung mau sampai kapan ia tetap bertahan dirumah sedangkan kebutuhan makan, minum harus terus dicukupi hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidak di rumah saja dan kembali berdagang meskipun rentan dan berisiko tertular karena harus bertemu dengan banyak orang dan pembeli yang juga tidak tahu terjangkit atau tidak.

Perbedaan pendapatan hasil dagang pun ia rasakan saat pandemi. “sekarang harus ngirit banget ditambah cuaca hujan. Saya kan jual thai tea dan tiap jam 10.00 malam sekarang polisi datang menghimbau untuk di tutup semua”. Ia pun harus menghemat biaya pengeluarann untuk kebutuhan sehari-hari. Menu makan yang biasanya ada lauk, sayur dan buah sekarang harus pilih salah satu. Uang jajan anak tetap dikeluarkan sekalipun anak tidak sekolah. “namanya anak-anak, jajan mah tetep meski gak sekolah. Kadang bikin pusing karena anak-anak di rumah juga bosan, akhirnya ribut aja, rumah gak pernah beres berantakan terus, kadang aku marah dan kalau aku udah cape banget aku biarin nanti ayahnya yang ngurus ”

“saya juga kan hamil dan dianjurkan setiap bulan periksa kehamilan dan cek lab saat usia kandungan 4 bulan di puskesmas untuk memastikan kondisi kehamilan sehat. Saya belum memeriksakan ke puskes karena takut  kan banyak orang dan tidak tahu ada atau tidak yang terjangkoit covid 19” tuturnya.

Meskipun demikian, ia menyadari bahwa pemeriksaan kehamilan tetap harus dilakukan. Meskipun berbayar, ia akhirnya melakukan pemeriksaan kehamilan di klinik bidan terdekat.  Ia juga akhirnya memberanikan diri untuk cek HB ke Puskesmas karena keterbatasan biaya dan sempat ketakutan. Kecamatan Panjang diketahui positif covid berjumlah 20 orang. “aku kalau gak mendesak banget, gak berani ke luar rumah dan ke puskesmas”.

“Dampak ekonomi Covid ini berpengaruh banget, dulu periksa kehamilan di puskesmas gratis terus, sekarang takut jadi periksa di klinik, posyandu gak ada”.

Ia juga jadi lebih protek terhadap tubuh dan kesehatan seksual reproduksinya termasuk cek deteksi dini kanker payudara dan pemeriksaan layanan tes iva. Dimana sebelumnya ia tidak pernah melakukan upaya tersebut untuk pencegahan.