Pendidikan Kritis Perubahan Perilaku Saat Bencana Non-Alam Pandemi Covid-19 Merebak

55

Bandar Lampung (SL)-Ketika Pandemi Covid-19 merebak, berbagai istilah asing yang menimbulkan kebingungan bagi masyarakat telah menjadi salah satu tantangan untuk dapat mematuhi protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Seperti disampaikan Koordinator Permampu, Dina Lumbantobing, kepada sinarlampung, Sabtu, 2 Mei 2020, yang disampaikan melalui siaran persnya, bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan 2 Mei 2020.

Bersama Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR, Konsorsium PERMAMPU, menyampaikan sejumlah pernyataan sikap yang terkait persoalan pendidikan yang secara langsung dirasakan oleh kelompok perempuan akar rumput dan komunitas di sekitarnya yang menjadi dampingan Permampu.

“Dibutuhkan sosialisasi yang tidak hanya sekedar menjelaskan arti dari berbagai istilah asing, mulai dari lockdown, social stancing, physical stancing, epicenter, cluster, red zone, hand sanitizer, disinfectant; tetapi juga berbagai akronim yang membingungkan: ODP, PDP, OTG, dst; tetapi menyangkut cara mengosialisasikan yang membawa perubahan perilaku,” kata Dina Lumbantobing, seraya menyampaikan Permampu adalah konsorsium dari 8 LSM Perempuan yang mengadvokasi Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) Perempuan di 8 propinsi di pulau Sumatera.

Demikian juga halnya dengan perempuan muda dampingan Permampu, serta anggota keluarga mereka, lanjut Dina Lumbantobing, ketidaksiapan untuk belajar jarak jauh yang begitu tiba-tiba, tantangan untuk belajar dari rumah; sangat diwarnai oleh masalah akses ke media belajar berupa HP, laptop, jaringan internet yang lancar, suasana belajar di rumah, dan kesulitan untuk disiplin mengelola waktu belajar di rumah. “Hal ini diperburuk oleh karena media belajar ini juga merupakan media untuk berkomunikasi, untuk pergaulan, dan sebagainya,” ujar Dina.

Diterangkan lebih lanjut, secara khusus, perempuan memperoleh tantangan tersendiri karena mereka sering lebih banyak melakukan tugas rumahtangga daripada anak laki laki. Sementara, anak laki-laki lebih bebas keluar rumah bahkan tidak disiplin dalam mematuhi larangan berkumpul, menggunakan masker, jam malam, dan lain-lain. “Untuk mengatasinya, Permampu melaksanakan pendidikan kritis yang merupakan salah satu bentuk dari Pendidikan Seumur Hidup (lifelong learning),” beber Dina.

Senada, Direktur Lembaga Advokasi Perempuan – DAMAR, Sely Fitriani, menegaskan, (Direktur Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR)-terdapat 4 pilar dalam pendidikan seumur hidup, yaitu belajar untuk mengetahui dan menguasai sesuatu, melakukan atau menerapkan sesuatu, menjadi seseorang yang percaya diri, dan mampu hidup bersama orang lain dengan harmonis.

“Secara khusus, keempat kemampuan ini harus didasari oleh kesadaran kritis yang bukan hafalan atau keyakinan buta semata. Sehingga mulai April-Mei ini, sedang dilakukan pendidikan diskusi kritis untuk sekitar 800-an kader, para pihak berkepentingan (stakeholder local) dan pengurus kelompok perempuan dampingan Permampu,” urai Sely.

Lebih lanjut dijelaskan, pemahaman mereka dalam memahami seluk beluk virus corona menjadi dasar untuk masuk ke kesadaran baru mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan bahasa yang mudah dipahami. “Selama ini, kebersihan dan kesehatan belum menjadi sebuah perilaku penting yang menjadi dasar membangun immunitas dan mengatasi segala bentuk wabah,” jelas Sely.

Dirinya menerangkan lebih lanjut, pengetahuan ini membuat mereka berani dan percaya diri menyampaikan informasi mengenai seluk beluk Covid 19, jenis penularan dan cara pencegahannya di keluarga/rumah tangga dan komunitas dengan sederhana, menggunakan media-media yang resmi yang telah diadopsi untuk mudah dipahami komunitas loka.

Serta terampil membantu upaya-upaya pencegahan penularan virus corona/covid 19; maupun menangani kasus-kasus yang diakibatkan oleh wabah tersebut. “Bahkan bukan hanya dampingan, tetapi untuk masyarakat dimana mereka hidup bersama,” katanya.

Sebagaimana terlihat di 8 wilayah dampingan di Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung). Di Lampung sendiri terdapat 4 wilayah dampingan DAMAR, Bandarlampung, Lampung Selatan, Tanggamus, Lampung Timur dengan gerakan konkrit di komunitas yakni terlibat di gerakan desa, sebagai tim Gugus Tugas Desa dalam penanganan Covid-19.

“Juga membantu isolasi mandiri, membangun hotline rujukan, pengembangan usaha tanggap darurat kesehatan melalui pembuatan massal disinfektan, hand sanitizer, tempat cuci tangan dan kaki di luar rumah. Dibarengi dengan pembuatan masker, menggiatkan pondok pangan/sembako serta aktif terlibat dalam pendataan, memverifikasi dan memantau agar bantuan untuk warga miskin yang terdampak Covid 19 tepat sasaran. Seluruh kegiatan ini diprakarsai kelompok-kelompok perempuan dampingan,” urainya.

Selain itu, pemimpin lokal Desa Batu Tegi, pihak kecamatan, UPTD Kesehatan, kepolisian (tingkatan polsek) dan Danramil wilayah kerja Air Naningan, Kab. Tanggmus, pemimpin lokal desa Haduyang Kec. Natar Lampung Selatan, Taman Negeri Kec. Way bungur Lampung Timur memberikan apresiasi dan merasa termotivasi untuk mereplikasi model edukasi yang dilakukan. Meski ada juga beberapa wilayah yang tidak diberikan izin untuk pelaksanaan pendidikan ini, sesuai dengan aturan setempat.

“Hal penting lainnya adalah sampai hari ini belum diketahui kapan waktu wabah Covid 19 akan berakhir di Indonesia, mungkin masih akan sampai Juli bahkan akhir Desember 2020, yang tentunya akan berimplikasi pada ekonomi,” papar Sely.

Untuk itu, di Hari Pendidikan ini, Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR menyampaikan rekomendasi sebagai berikut. Menjembatani agar layanan kesehatan di Puskesmas (Immunisasi, akses ke pemeriksaan kehamilan, akses ke kontrasepsi, gizi/stunting), dan pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) oleh para kader dan para pihak bisa terus berjalan dengan berbagai strategi sesuai protocol kesehatan;

Mengaktifkan HOTLINE & diskusi kritis untuk pengaduan, dan merespons cepat soal-soal HKSR dan Kekekerasan Terhadap Perempuan, khususnya KDRT & Kekerasan seksual; termasuk melanjutkan pendidikan untuk anak dan keluarga mengenai HKSR di masa wabah Covid 19:

Pengawalan data dan monitoring pelaksanaan jaringan pengaman sosial yang tepat sasaran, serta menghimbau untuk konsisten mengutamakan mereka yang terdampak langsung, khususnya perempuan & kelompok miskin yang belum pernah mengakses berbagai bantuan sebelum wabah Covid-19.

Di samping mendidik kelompok perempuan dan komunitas untuk secara aktif mengembangkan usaha usaha mikro/kecil untuk penguatan ekonomi perempuan dan keluarga. Mengadvokasi peraturan dana desa dan kelurahan untuk menyesuaikan dengan kondisi masyarakat khususnya perempuan miskin di masa wabah Covid-19. Termasuk mendorong dipersiapkannya sistem untuk menjamin ketersediaan pangan khususnya untuk masyarakat miskin terkena dampak Covid-19.

Agar di masa apapun yang terjadi di masa wabah Covid-19, tidak mengorbankan kepentingan perempuan muda, perempuan miskin maupun kelompok rentan lainnya. Khususnya akses pendidikan bagi anak perempuan dan perempuan muda di usia sekolah. Perkawinan di usia anak dan usia dini harus terus dihindarkan.

Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR daan Konsorsium Permampu meyakini bahwa sosialisasi dalam bentuk Pendidikan dan Diskusi Kritis untuk akar rumput harus tetap dilaksanakan dalam situasi bencana seperti Wabah Covid 19, untuk perempuan akar rumput, dan untuk semua, di semua tempat. (*/ardi)

Sumber : https://sinarlampung.co/2020/05/02/pendidikan-kritis-perubahan-perilaku-saat-bencana-non-alam-pandemi-covid-19-merebak/