Istilah Asing “Red Zone dan Lockdown” Bingungkan Warga soal Protokol Kesehatan Lawan Corona

99

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Ketika Pandemi Covid 19 merebak, berbagai istilah asing yang menimbulkan kebingungan bagi masyarakat telah menjadi salah satu tantangan untuk dapat mematuhi protokol kesehatan yang dikeluarkan oleh Pemerintah.

Hal ini secara langsung dirasakan oleh kelompok perempuan akar rumput dan komunitas di sekitarnya yang menjadi dampingan Permampu.

“Dibutuhkan sosialisasi yang tidak hanya sekedar menjelaskan arti dari berbagai istilah asing mulai dari lock down, social stancing, physical stancing, epicenter, cluster, red zone, hand sanitizer, disinfectant; tetapi juga berbagai akronim yang membingungkan: ODP, PDP, OTG, dst; tetapi menyangkut cara menyosialisasikan yang membawa perubahan perilaku,” ujar Direktur Lembaga Advokasi Perempuan Damar Lampung Sely Fitriani bersama dengan Koordinator Permampu Dina Lumban Tobing dalam rilis yang diterima Tribun, (2/5/2020).

Untuk mengatasinya, Permampu melaksanakan pendidikan kritis yang merupakan salah satu bentuk dari Pendidikan Seumur Hidup (lifelong learning) yang dilaksanakan pada April hingga Mei ini.

Pendidikan kritis diperuntukan kepada 800 orang yang mencakup stakeholder local dan pengurus kelompok perempuan dampingan Permampu.

Sementara dalam merayakan Hari Pendidikan, Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR menyampaikan rekomendasi sebagai berikut:

Pertama, Menjembatani agar layanan kesehatan di Puskesmas (Immunisasi, akses ke pemeriksaan kehamilan, akses ke kontrasepsi, gizi/stunting), dan pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Kedua, mengaktifkan HOTLINE & diskusi kritis untuk pengaduan, dan merespons cepat soal-soal HKSR dan Kekekerasan Terhadap Perempuan, khususnya KDRT & Kekerasan seksual; termasuk melanjutkan pendidikan untuk anak dan keluarga mengenai HKSR di masa wabah Covid 19.

Ketiga, pengawalan data dan monitoring pelaksanaan jaringan pengaman sosial yang tepat sasaran, serta menghimbau untuk konsisten mengutamakan mereka yang terdampak langsung, khususnya perempuan & kelompok miskin yang belum pernah mengakses berbagai bantuan sebelum wabah Covid 19.

Keempat, mengadvokasi peraturan dana desa dan kelurahan untuk menyesuaikan dengan kondisi masyarakat khususnya perempuan miskin di masa wabah Covid-19.

Dan kelima, agar di masa apapun yang terjadi di masa wabah Covid 19, tidak mengorbankan kepentingan perempuan muda, perempuan miskin maupun kelompok rentan lainnya. Khususnya akses pendidikan bagi anak perempuan dan perempuan muda di usia sekolah. Perkawinan di usia anak dan usia dini harus terus dihindarkan.

“Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR dan Konsorsium Permampu meyakini bahwa sosialisasi dalam bentuk Pendidikan dan Diskusi Kritis untuk akar rumput harus tetap dilaksanakan dalam situasi bencana seperti Wabah Covid 19, untuk perempuan akar rumput, dan untuk semua, di semua tempat,” tulis keterangan di akhir rilis tersebut.(Tribunlampung.co.id/V Soma Ferrer)

Sumber : https://lampung.tribunnews.com/2020/05/02/istilah-asing-red-zone-dan-lockdown-bingungkan-warga-soal-protokol-kesehatan-lawan-corona