Kasus KDRT di Lampung Meningkat Drastis

11

BANDAR LAMPUNG (Lampost.co) — Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Lampung mencapai 114 kasus sepanjang 2019. Angkat tersebut meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya, yakni 52 kasus.

Direktur Executive Lembaga Advokasi Perempuan Damar Sely Fitriani mengatakan, jumlah kasus KDRT di Lampung meningkat drastis dengan didominasi kasus kekerasan seksual. Sedangkan kasus kekerasan perempuan dan anak rentan usia 0-17 sebanyak 57 kasus.

Menurutnya ada beberapa faktor penyebab tingginya kasus KDRT di Lampung diantaranya, yakni koneksi, relasi  yang tidak setara dalam rumah tangga, dimana UU perkawinan laki-laki dan perempuan dalam pernikahan disebutkan bahwa laki-laki sebagai Kepala rumah tangga, dan perempuan sebagai ibu rumah tangga. Maka ketika laki-laki sudah mendapatkan stempel sebagai kepala dengan posisi di atas lebih superior, dan sebagai ibu menjadi relasi yang dibawah kelas nomor dua dalam rumah tangga.

“Ketika laki-laki dan perempuan ada relasi lebih tinggi, tidak setara maka beresiko melakukan kekerasan terhadap orang di bawahnya. Konteks rumah tangga  ada relasi kuasa yang tidak setara maka menjadi konsep kepemilikan tinggi kepala rumah tangga terhadap orang dibawahnya istri dan anak, bahkan pekerja rumah tangga,” kata Sely, Jumat, 6 Maret 2020.

Menurutnya, karena relasi yang tidak setara akhirnya membuat kepala rumah tangga melakukan kekerasan, mulai dari bentuk fisik, psikis, ekonomi, penelantaran rumah tangga, bahkan kekerasan dalam rumah tangga jadi tinggi.

“Beberapa waktu lalu publik digegerkan dengan kasus inses yang dilakukan oleh ayah dan kakak terhadap anak disabilitas. Merefleksi hal itu perempuan sangat rentan terhadap kekerasan, tidak ada tempat yang sepenuhnya aman bagi perempuan,” paparnya.

Jika mungkin dulu beranggapan perempuan berada di luar rentan menjadi korban kekerasan, namun hal itu tidak lagi saat ini. Dimana rumah sebagai tempat yang dianggap paling amanpun juga beresiko.

“Relasi kuasa yang tidak seimbang mengakibatkan tidak ada tempat sepenuhnya paling aman. Banyak kasus yang terjadi di dalam rumah dan pelakunya adalah orang terdekat,” ungkapnya.

Kemudian, faktor budaya yang memposisikan laki-laki lebih tinggi, sehingg kasus KDRT terjadi tidak hanya terjadi pada orang yang memiliki pendidikan atau ekonomi rendah. Pendidikan tinggi, bahkan kalangan ekonomi ke atas juga rentan dan berpotensi mengalami KDRT.

” Selagi ada relasi yanh tidam setara apalagi ada konsep kepemlikan dalam rumah tangga perempuan rentan menjadi korban meski punya latar belakang pendidikan tinggi.”

Sumber :https://www.lampost.co/berita-kasus-kdrt-di-lampung-meningkat-drastis.html